Kamis, 26 April 2012

Tarbiyah “Anak Kader” : Mereka Adalah Kader !

Oleh : Cahyadi Takariawan

Pergerakan dakwah tidak terasa telah mencapai usia kematangan dan kedewasaan, sebagaimana pula usia para aktivisnya. Anak-anak muda aktivis dakwah kampus pada dekade tahun 1980-an yang tertarbiyah dalam wadah pergerakan, mereka kini telah menjadi orang tua yang anak-anak mereka mulai memasuki usia remaja, sebagian sudah memasuki dunia kampus, bahkan sebagian lain telah lulus kuliah, menikah dan memiliki anak-anak.
Generasi pertama pergerakan dakwah, telah melahirkan anak-anak dan bahkan sebagian telah menimang cucu. Maka muncullah kebutuhan untuk melakukan program tarbiyah anak kader (TAK), untuk meneruskan perjuangan para pendahulu, sekaligus melakukan regenerasi nilai dan pewarisan manhaj kepada anak-anak kader. Ada sejumlah kekhawatiran bahwa anak-anak kader mengalami disorientasi, yang tidak mencerminkan semangat orang tuanya.
Program tarbiyah anak kader pun digulirkan melalui berbagai format dan kegiatannya. Semua dalam rangka menyiapkan generasi berikutnya dalam pergerakan dakwah, yang berkesinambungan dari orang tua ke anak-anak dan cucu-cucu, agar tetap berada dalam rel dakwah. Alhamdulillah, program ini telah bergulir dimana-mana, di seluruh Indonesia bahkan di manca negara.

Mengapa Disebut “Anak Kader” ?
Saya tidak menolak istilah “anak kader”, hanya saja saya merasakan bobot yang berbeda pada penyebutan istilah ini. Bandingkan jika mereka ini kita sebut sebagai “kader muda”, karena orang tua dan kakek mereka juga kader, namun usianya sudah lebih tua. Atau sebut saja dengan tegas : kader ! Dengan istilah ini, mereka kita posisikan sebagai kader, merekalah kader itu, sebagaimana orang tua dan kakek mereka yang juga kader dakwah.
Mungkin istilah ini digunakan untuk membedakan, antara anak-anak dari masyarakat umum, dimana orang tua mereka bukan kader dakwah; dengan anak-anak yang terlahir dari para kader dakwah. Gerakan dakwah dan para qiyadah ingin memberikan program khusus bagi anak-anak yang terlahir dari para kader, karena mereka diharapkan akan menjadi generasi penerus. Mereka diharapkan akan menjadi kader dakwah yang meneruskan garis perjuangan orang tua dan generasi sebelum mereka.
Namun izinkan saya memberikan beberapa catatan atas istilah “anak kader” ini. Pertama, ketika kita menyebut mereka dengan istilah anak kader, maka pertanyaan tentang siapa jati diri mereka belum terjawab. Istilah itu baru menunjukkan, bahwa mereka secara biologis adalah anak-anak dari para kader dakwah. Kita belum memberikan kehormatan kepada mereka, untuk mengatakan dengan tegas bahwa merekalah kader itu, bukan saja orang tuanya.
Kedua, pada beberapa kalangan anak kader yang belum siap memasuki dunia kekaderan, mereka terbebani oleh beban orang tuanya. Mereka disebut anak kader, dan memiliki sejumlah program yang harus mereka ikuti. Ketika mereka bertanya, mengapa harus ikut program ini, dijawab : karena kamu adalah anak kader ! Bapak dan ibu kamu adalah kader, maka kamu adalah anak kader, dan oleh karena itu kamu wajib mengikuti program-program untuk anak kader.
Coba bandingkan, jika kita menjawab seperti ini : “Kamu mengikuti program tersebut karena kamu adalah kader dakwah. Bapak dan ibu ini kader dakwah, maka bapak dan ibu juga mengikuti program sebagaimana yang engkau ikuti. Kita sama-sama kader dakwah, engkau muda, dan kami sudah tua. Kita mengikuti program yang sama, yaitu tarbiyah, karena kita semua adalah kader dakwah”.
Ketiga, secara psikologis, istilah itu bisa memiliki dampak kurang memberikan penghormatan kepada anak-anak, karena yang dihormati dalam istilah “anak kader” tetaplah orang tua mereka. Pergerakan dakwah memberikan penghormatan kepada orang tua mereka yang menjadi kader dakwah dan telah berjuang dalam jalan dakwah, dengan jalan menyediakan program pembinaan untuk anak-anak. Pada istilah itu terdapat pengukuhan sebutan “kader” untuk orang tua mereka, yang memang telah menjadi kader dakwah. Namun mereka belum dikukuhkan sebagai kader.
Akan sangat kokoh jati diri dan eksistensi mereka, jika dengan bangga kita sebut mereka sebagai “kader”.
Bukankah Mereka Kader (yang Masih) Muda ?
Saya membayangkan, betapa bangga Umar bin Khathab, karena anaknya, Abdullah bin Umar, juga menjadi sahabat Nabi Saw, bahkan termasuk tokoh yang menonjol di kalangan sahabat. Apakah Abdullah bin Umar disebut sebagai “anak sahabat”, karena yang menjadi sahabat Nabi adalah bapaknya ? Ternyata Abdullah bin Umar juga disebut sebagai “sahabat”, sebagaimana sebutan yang diberikan kepada bapaknya. Anak dan bapak sama-sama berstatus sahabat.
Abdurrahman bin Abubakar adalah sahabat, sebagaimana bapaknya, Abubakar Ash Shidiq adalah sahabat. Amar bin Yasir adalah sahabat, sebagaimana bapaknya, Yasir juga seorang sahabat. Abdullah bin Amr bin Ash adalah sahabat, sebagaimana bapaknya, Amr bin Ash juga seorang sahabat. Mereka adalah contoh, anak dan bapak yang sama-sama menjadi sahabat Nabi Saw dan kita sebut mereka semua sebagai sahabat.
Kita semua ingin, anak-anak dan cucu-cucu kita akan menjadi penerus pergerakan dakwah, sebagaimana doa yang selalu kita munajatkan kepada Allah :
“Dan orang orang yang berkata: Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (Al Furqan : 74).
Tak jemu kita memohon kepada Allah agar semua keturunan kita menjadi penyejuk hati generasi pendahulu, yang mereka lurus berada dalam jalan kebenaran dan dalam jalan ketaatan kepada Allah. Kita semua berharap anak-anak dan cucu-cucu menjadi penerus jejak langkah membawa risalah kenabian, menuju cita-cita peradaban. Maka anak-anak kita adalah kader, dengan berbagai kondisi yang mereka miliki saat ini. Dengan doa ini kita dituntut memiliki spirit untuk mewariskan nilai-nilai kebaikan dan perjuangan kepada anak-anak dan generasi penerus kita.
Untuk menuju kondisi kekaderan ini, maka diperlukan usaha serius dan simultan dari para orang tua, dan didukung penuh oleh gerakan dakwah. Setiap orang tua, wajib mendidik anak-anak dengan pendidikan yang terbaik, untuk mencetak anak-anak menjadi generasi penerus dalam dakwah. Orang tua tidak boleh lalai dalam mendidik anak-anak, dengan alasan kesibukan dakwah. Atau lalai mendidik anak-anak, dengan alasan sudah dididik dan diurus oleh gerakan dakwah. Karena tanggung jawab pertama dan utama pendidikan anak adalah orang tua. Orang tualah yang kelak dimintai perttanggungjawaban di hadapan Allah atas usaha pendidikan yang telah mereka lakukan terhadap anak-anak.
Ya, mereka adalah kader-kader yang usianya masih muda belia. Kewajiban kita sebagai orang tua untuk mendidik dan mengarahkan mereka agar selalu berada di jalan yang lurus. Gerakan dakwah mendukung dengan seperangkat program dan kegiatan untuk mengokohkan kebaikan anak-anak, agar mereka terjaga kebaikan dan kelurusan orientasinya.



0 comments:

Poskan Komentar